Rabu, 12 Agustus 2026

Lomba Mewarnai di Kediri Ajarkan Anak Pilah Sampah dan Peduli Lingkungan Sejak Dini


(by antara news)

KEDIRI –
Upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan terus dilakukan Pemerintah Kota Kediri sejak usia dini. Salah satunya melalui kegiatan lomba mewarnai yang mengangkat tema pengelolaan sampah dan diikuti ribuan siswa taman kanak-kanak (TK) dari berbagai wilayah di Kota Kediri.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Taman Brantas tersebut tidak hanya menjadi ajang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan menggambar dan mewarnai. Di balik kegiatan tersebut, terselip pesan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan serta membiasakan diri mengelola sampah dengan benar.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan pengenalan terhadap persoalan lingkungan perlu dilakukan sejak anak masih berada pada usia dini. Menurutnya, kebiasaan menjaga lingkungan akan lebih mudah terbentuk apabila dikenalkan melalui kegiatan yang menyenangkan.

Pemkot berharap anak-anak tidak hanya memahami pesan lingkungan selama mengikuti perlombaan, tetapi juga mampu menerapkannya di rumah maupun lingkungan sekitar.

Kenalkan Pemilahan Sampah

Tema pengelolaan sampah menjadi salah satu materi utama yang diperkenalkan kepada peserta. Anak-anak diajak memahami bahwa sampah tidak seharusnya dibuang begitu saja, melainkan perlu dipilah sesuai jenisnya.

Pemilahan tersebut dapat dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Kebiasaan sederhana ini diharapkan dapat dimulai dari lingkungan keluarga.

Saat berinteraksi dengan peserta, Vinanda melihat sebagian besar anak sudah cukup memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Bahkan, beberapa di antaranya telah mengetahui bahwa sampah harus dipisahkan berdasarkan jenisnya.

Edukasi dengan cara yang ringan seperti lomba mewarnai dinilai dapat membuat anak lebih mudah menerima pesan yang disampaikan.

Selain membangun kepedulian lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi anak untuk mengembangkan kreativitas. Mereka diberi kebebasan dalam menentukan warna dan mengekspresikan gagasan melalui gambar yang telah disiapkan panitia.

Sampah Ternyata Punya Nilai Ekonomi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Indun Munawaroh menambahkan bahwa edukasi kepada anak tidak berhenti pada persoalan kebersihan.

Anak-anak juga mulai diperkenalkan pada konsep bahwa sebagian sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Sampah yang sudah dipilah dapat dikumpulkan dan disalurkan melalui bank sampah. Material yang masih memiliki nilai jual kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan tambahan pemasukan.

Konsep tersebut sekaligus memberikan pemahaman kepada anak bahwa menjaga lingkungan dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dilakukan secara konsisten.

Edukasi Lingkungan Sekaligus Belajar Menabung

Menariknya, kegiatan ini juga menghubungkan edukasi lingkungan dengan kebiasaan menabung. Para peserta direncanakan mendapatkan tabungan dengan saldo awal Rp5.000.

Dengan konsep tersebut, anak-anak tidak hanya diajak mengenal pentingnya memilah sampah, tetapi juga diperkenalkan pada kebiasaan menyisihkan dan menyimpan uang sejak dini.

Pesan yang ingin dibangun adalah sampah yang dikelola dengan benar dapat memiliki nilai, sedangkan hasil pengelolaannya dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, termasuk ditabung.

Bagi anak-anak, konsep tersebut dapat menjadi pengalaman sederhana untuk memahami hubungan antara menjaga lingkungan, mengelola barang bekas, dan belajar mengatur keuangan.

Diikuti Lebih dari 1.400 Anak

Kegiatan di Taman Brantas Kota Kediri tersebut diikuti lebih dari 1.400 peserta yang berasal dari TK se-Kota Kediri.

Jumlah peserta yang besar menunjukkan antusiasme sekolah maupun orang tua dalam mendukung kegiatan edukasi lingkungan bagi anak.

Panitia memberikan gambar dengan tema pengelolaan lingkungan untuk kemudian diwarnai peserta. Anak-anak diberikan ruang untuk berkreasi sesuai imajinasi masing-masing.

Selain mendapatkan tabungan, peserta yang berhasil menjadi pemenang juga memperoleh uang pembinaan sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas mereka.

Pemkot Kediri berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai perlombaan sesaat. Nilai-nilai yang diperkenalkan kepada anak diharapkan dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, menjaga kebersihan hingga membangun kebiasaan menabung.

Dengan membiasakan perilaku tersebut sejak usia dini, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi masyarakat yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu memahami pentingnya mengelola sumber daya secara bijak.

(Red/lis)

Grup WhatsApp Makin Rapi, 3 Fitur Baru Ini Bisa Bikin Obrolan Tak Lagi Berantakan


Ilustrasi fitur WhatsApp Chat Grup yang memudahkan interaksi.( by radar kediri)



KEDIRI –
Grup WhatsApp sering menjadi tempat berkumpulnya banyak orang untuk berbagi informasi. Namun, semakin banyak anggota dan pesan yang masuk, semakin besar pula kemungkinan informasi penting tertutup oleh percakapan lain.

Kondisi tersebut kini coba diatasi WhatsApp melalui sejumlah pembaruan. Platform perpesanan tersebut menghadirkan tiga fitur baru yang dirancang untuk membuat komunikasi dalam grup menjadi lebih teratur, efektif, dan mudah dikelola.

Pembaruan tersebut diumumkan melalui blog resmi WhatsApp pada 4 Agustus 2026 dan mulai tersedia secara bertahap bagi pengguna perangkat Android maupun iOS.

Polling Kini Lebih Fleksibel

Pembaruan pertama menyasar fitur polling atau jajak pendapat yang selama ini banyak digunakan untuk mengambil keputusan bersama di dalam grup.

Kini, pembuat polling dapat menetapkan batas waktu pemungutan suara. Dengan adanya opsi tersebut, anggota grup tidak bisa memberikan suara setelah periode yang telah ditentukan.

Fitur ini dinilai berguna untuk berbagai kebutuhan, mulai dari menentukan jadwal kegiatan, memilih lokasi acara, hingga mengambil keputusan yang membutuhkan batas waktu tertentu.

WhatsApp juga menyediakan pilihan untuk menyembunyikan identitas anggota yang memberikan suara. Opsi tersebut dapat digunakan ketika pembuat polling ingin menjaga kerahasiaan pilihan peserta.

Selain itu, pertanyaan dalam polling juga dapat diperbaiki setelah dikirim. Pengguna memiliki waktu hingga 15 menit untuk mengedit pertanyaan apabila terdapat kesalahan penulisan atau kalimat yang kurang jelas.

Dengan begitu, pengguna tidak harus menghapus polling lama dan membuat jajak pendapat baru hanya karena terdapat kesalahan kecil.

Ada Fitur @all untuk Memanggil Semua Anggota

Fitur kedua kemungkinan menjadi salah satu pembaruan yang paling terasa manfaatnya bagi pengguna grup dengan banyak anggota.

WhatsApp kini menghadirkan fitur @all yang memungkinkan seseorang mengirim notifikasi kepada seluruh anggota grup secara bersamaan. Pengguna cukup mengetikkan @all di kolom percakapan ketika ingin menyampaikan informasi yang dianggap penting.

Menariknya, notifikasi tersebut tetap dapat diterima oleh anggota yang sebelumnya membisukan atau mute grup.

Fitur ini bisa membantu ketika ada pengumuman penting yang membutuhkan perhatian seluruh anggota. Misalnya, perubahan jadwal rapat, informasi keadaan darurat, pengumuman kegiatan, atau pemberitahuan yang tidak boleh terlewat.

Namun, WhatsApp tetap memberikan pembatasan untuk mencegah fitur tersebut digunakan secara berlebihan.

Pada grup yang memiliki lebih dari 32 anggota, kemampuan menggunakan @all dibatasi untuk administrator. Sementara pada grup dengan jumlah anggota lebih sedikit, fitur tersebut dapat digunakan oleh anggota grup.

Bagi pengguna yang tidak ingin menerima pemberitahuan @all, tersedia pula opsi untuk menonaktifkan notifikasi tersebut melalui pengaturan.

Bisa Membuat Grup Baru dari Grup yang Sudah Ada

Pembaruan ketiga memberikan cara yang lebih praktis untuk membuat grup baru dari percakapan grup yang sudah tersedia.

Pengguna dapat membuat grup baru hanya dengan beberapa langkah tanpa harus mencari dan mengundang anggota satu per satu.

Fitur ini berguna ketika sebagian anggota dalam sebuah grup perlu membahas topik tertentu secara lebih khusus.

Contohnya, sebuah grup keluarga besar sedang membicarakan rencana ulang tahun. Daripada pembahasan teknis memenuhi grup utama, anggota yang terlibat dalam persiapan dapat dipindahkan ke grup khusus.

Hal serupa bisa diterapkan pada kepanitiaan kegiatan, komunitas, organisasi, maupun lingkungan kerja.

Dengan memisahkan pembicaraan berdasarkan kebutuhan, grup utama diharapkan tidak dipenuhi percakapan yang hanya relevan bagi sebagian anggota.

Digulirkan Bertahap ke Pengguna

Ketiga pembaruan tersebut menjadi bagian dari upaya WhatsApp meningkatkan pengalaman komunikasi di dalam grup.

Selama ini, grup WhatsApp memang menjadi salah satu fitur yang banyak digunakan untuk kebutuhan pribadi maupun pekerjaan. Namun, semakin besar jumlah anggota, semakin kompleks pula percakapan yang berlangsung.

Kehadiran fitur polling yang lebih lengkap, @all, serta kemampuan membuat grup baru dari grup yang sudah ada diharapkan dapat membantu pengguna mengatur komunikasi dengan lebih baik.

Pengguna yang belum menemukan fitur-fitur tersebut tidak perlu khawatir. Pembaruan diberikan secara bertahap sehingga ketersediaannya dapat berbeda antara satu akun dengan akun lainnya.

Untuk memastikan aplikasi mendapatkan pembaruan terbaru, pengguna dapat memeriksa versi WhatsApp yang terpasang melalui Google Play Store bagi perangkat Android atau App Store bagi pengguna iPhone.

Jika fitur belum tersedia meskipun aplikasi sudah diperbarui, pengguna kemungkinan masih harus menunggu hingga pembaruan tersebut aktif pada akunnya.

(Red/lis)

Senin, 10 Agustus 2026

BGN Perketat Aturan MBG, Ada Label Batas Waktu hingga Larangan Bawa Pulang

 

Makan Bergizi Gratis (MBG) phot by radar kediri



JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah. Salah satu arahan terbaru yang diberikan adalah meminta guru ikut makan bersama siswa saat menu MBG dibagikan.

Kebijakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memastikan makanan diterima dan dikonsumsi siswa, tetapi juga menjadi bagian dari pengawasan kualitas pangan sekaligus sarana pembelajaran perilaku bagi peserta didik.

Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa guru diharapkan berada bersama siswa ketika waktu makan berlangsung. Menurutnya, kegiatan makan bersama di dalam kelas dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan berbagai kebiasaan positif, seperti tertib saat mengambil makanan, menjaga kebersihan, serta menerapkan etika ketika makan.

Selain berfungsi sebagai pendamping, guru juga dinilai mempunyai peran penting dalam memastikan kondisi makanan sebelum dikonsumsi para siswa. Guru diminta melakukan pengecekan secara langsung terhadap makanan yang akan diberikan.

Apabila terdapat makanan yang dinilai tidak layak atau menimbulkan keraguan dari sisi keamanan dan kualitas, makanan tersebut harus dihentikan pemberiannya kepada siswa.

BGN Siapkan Label Batas Aman Konsumsi

Untuk memperkuat pencegahan terhadap potensi gangguan kesehatan akibat makanan, BGN juga akan menerapkan sistem penandaan batas waktu konsumsi.

Mulai pekan berikutnya, wadah makanan atau ompreng yang digunakan dalam program MBG akan diberi label yang menunjukkan batas waktu aman makanan tersebut untuk dikonsumsi.

Penerapan batas waktu tersebut bertujuan mengurangi kemungkinan makanan dikonsumsi setelah melewati masa aman. Jika waktu yang tertera pada label telah terlampaui, makanan tidak diperbolehkan untuk diberikan maupun dikonsumsi.

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya BGN dalam memperketat standar keamanan pangan selama pelaksanaan program MBG.

Siswa Dilarang Membawa Pulang Lauk MBG

BGN juga kembali mengingatkan agar makanan MBG tidak dibawa pulang oleh siswa. Larangan tersebut termasuk untuk lauk seperti telur maupun ayam yang terkadang sengaja disisihkan siswa untuk diberikan kepada keluarganya.

Meski tindakan tersebut dapat muncul karena keinginan berbagi dengan orang tua atau anggota keluarga di rumah, makanan MBG memiliki ketahanan yang terbatas. Setelah berada di luar kondisi penyimpanan yang sesuai, kualitas dan keamanan makanan dapat mengalami penurunan.

Karena itu, siswa diminta menghabiskan makanan MBG di sekolah sesuai waktu yang telah ditentukan dan tidak menyimpan atau membawa pulang sisa makanan.

Guru juga diminta ikut memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai ketentuan tersebut. Edukasi kepada wali murid dinilai penting agar keluarga memahami bahwa membawa pulang makanan yang telah melewati batas waktu konsumsi dapat menimbulkan risiko kesehatan.

BGN menekankan bahwa niat berbagi makanan merupakan hal positif, tetapi harus tetap dilakukan dengan memperhatikan prosedur keamanan pangan. Dengan pengawasan guru, edukasi kepada siswa dan orang tua, serta penerapan batas waktu konsumsi, pelaksanaan program MBG diharapkan berlangsung lebih aman dan sesuai standar.

(Red/hep)

Minggu, 09 Agustus 2026

Karhutla di Bromo Meluas, Kunjungan Wisatawan Dihentikan Total

 

Gunung Bromo



PROBOLINGGO – Aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo ditutup sementara menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Balai Besar TNBTS memutuskan menutup seluruh jalur masuk menuju kawasan wisata Gunung Bromo sebagai langkah untuk mendukung proses penanganan kebakaran sekaligus mengutamakan keselamatan pengunjung.

Kebijakan tersebut tertuang dalam pengumuman bernomor PG.18/T.8/BIDTEK/HMS.01.07/B/08/2026. Pengumuman mengenai penutupan tersebut disampaikan melalui situs web serta sejumlah kanal media sosial resmi Balai Besar TNBTS.

Sebelumnya, penutupan mulai diberlakukan pada Senin (3/8) pukul 22.00 WIB. Pada tahap awal, hanya sejumlah akses wisata yang ditutup karena adanya titik kebakaran di kawasan taman nasional.

Seiring perkembangan kondisi kebakaran, kebijakan kemudian diperluas. Mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB, seluruh pintu masuk menuju kawasan wisata Gunung Bromo dinyatakan ditutup.

Penutupan tersebut mencakup jalur Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, serta seluruh akses lain yang menjadi pintu masuk wisatawan menuju kawasan Bromo.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan bahwa penutupan total dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla yang terjadi di sekitar Kaldera Gunung Bromo.

Selain mendukung proses pemadaman, keputusan tersebut juga berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan wisatawan selama kondisi kawasan belum memungkinkan untuk menerima kunjungan.

Balai Besar TNBTS belum menetapkan tanggal pembukaan kembali kawasan wisata Gunung Bromo. Aktivitas wisata baru akan dipertimbangkan kembali setelah kondisi dinilai aman dan upaya penanganan kebakaran berjalan sesuai kebutuhan.

Sementara itu, wisatawan yang sebelumnya telah melakukan pembelian tiket melalui sistem pemesanan daring TNBTS tidak perlu khawatir kehilangan hak kunjungannya. Mereka diberikan pilihan untuk mengubah jadwal perjalanan atau mengajukan pengembalian biaya tiket.

Proses reschedule maupun refund dapat dilakukan dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Balai Besar TNBTS melalui admin aplikasi pemesanan tiket daring.

Balai Besar TNBTS juga meminta masyarakat, wisatawan, serta pelaku usaha jasa wisata untuk sementara tidak melakukan aktivitas di kawasan tersebut selama masa penutupan.

Masyarakat juga diimbau ikut menjaga kawasan taman nasional dari ancaman kebakaran, terutama dengan lebih berhati-hati dalam penggunaan api di sekitar kawasan hutan.

Kebakaran di kawasan Gunung Bromo sendiri mulai dilaporkan pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Lokasi awal kebakaran disebut berada di Blok Bantengan yang termasuk wilayah Ranupani, Kabupaten Lumajang.

Pada awal kejadian, Balai Besar TNBTS hanya menghentikan sementara akses melalui tiga pintu masuk, yakni Jemplang dan Coban Trisula di wilayah Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang.

Namun karena kondisi kebakaran berkembang, pembatasan kemudian diperluas hingga mencakup seluruh pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kapan kawasan Gunung Bromo akan kembali dibuka untuk wisatawan. Keputusan pembukaan akan menyesuaikan perkembangan kondisi kebakaran serta hasil evaluasi aspek keselamatan kawasan.

(Red/hep)

MBG dan Sepiring Lalapan: Ketika Keamanan Pangan Jadi Pelajaran Penting


lustrasi MBG (by radar kediri)


KEDIRI - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi salah satu ikhtiar penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Namun, tujuan baik tersebut terus dibayangi oleh persoalan keamanan pangan.

Kabar tentang siswa yang mengalami mual, muntah, diare, hingga harus mendapatkan penanganan medis setelah mengonsumsi makanan MBG kembali muncul di sejumlah daerah.

Kasus serupa bahkan terjadi dalam jumlah besar. Di Semarang, Jawa Tengah, ratusan pelajar dilaporkan menjadi korban. Di Jayapura, Papua, kejadian serupa juga terjadi dengan jumlah korban mencapai ratusan orang.

Kabupaten Kediri pun tidak luput dari persoalan tersebut. Pada Juli lalu, ratusan penerima manfaat MBG dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program tersebut.

Jika ditarik lebih jauh, sejak program ini berjalan, persoalan keamanan pangan menjadi salah satu tantangan yang harus mendapat perhatian serius.

Pertanyaannya kemudian sederhana: sebenarnya apa yang salah?

Sulit jika seluruh persoalan hanya diarahkan kepada jenis menu. Nasi, ayam, ikan, sayur, buah, tahu, dan tempe bukanlah makanan asing bagi masyarakat. Semua bahan tersebut setiap hari dikonsumsi tanpa selalu menimbulkan persoalan.

Persoalannya justru bisa berada pada proses di balik sepiring makanan.

Mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, kebersihan peralatan, suhu penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, hingga waktu makanan diterima dan disantap oleh siswa. Semua tahapan tersebut merupakan bagian dari rantai keamanan pangan yang harus dijaga.

Memasak untuk keluarga tentu berbeda dengan menyiapkan makanan untuk ratusan bahkan ribuan anak.

Semakin besar jumlah makanan yang diproduksi, semakin besar pula potensi masalah apabila satu bagian dari sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kesalahan kecil dalam proses produksi atau distribusi dapat berdampak besar. Satu dapur bermasalah, misalnya, bukan hanya membuat satu atau dua orang sakit. Dalam skala besar, dampaknya bisa dirasakan ratusan penerima makanan secara bersamaan.

Itulah sebabnya kasus keamanan pangan dalam program MBG perlu dilihat sebagai persoalan sistem, bukan semata-mata kesalahan individu.

Evaluasi pun semestinya tidak berhenti pada mengganti menu atau mencari siapa yang harus disalahkan.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan dari hulu sampai hilir. Mulai bahan datang hingga makanan berada di tangan anak-anak.

Nah, di tengah persoalan tersebut, izinkan saya menyampaikan sebuah usulan yang tentu saja lebih banyak unsur bercandanya.

Bagaimana kalau urusan MBG diserahkan saja kepada warung lalapan?

Misalnya, warung lalapan yang sudah menjadi langganan masyarakat.

Hampir di setiap kecamatan, bahkan di banyak desa, kita bisa menemukan warung semacam itu. Ketika malam tiba, rasanya tidak terlalu sulit mencari ayam goreng, lele, nila, bebek, tahu, tempe, lengkap dengan sambal.

Menariknya, pelanggan datang silih berganti setiap hari.

Namun, kita jarang mendengar kabar sebuah warung lalapan membuat satu kampung harus berbondong-bondong masuk puskesmas karena keracunan makanan secara bersamaan.

Tentu saja perbandingan ini tidak bisa diterapkan secara mentah.

Mengelola program nasional dengan jutaan penerima manfaat jelas jauh lebih kompleks dibandingkan menjalankan sebuah warung makan.

Namun, candaan tersebut menyimpan satu pelajaran sederhana: kepercayaan pelanggan dibangun dari konsistensi kualitas.

Warung makan tidak bertahan hanya karena papan namanya besar atau promosi yang menarik. Mereka bertahan karena pelanggan percaya makanan yang dibeli aman, rasanya konsisten, dan layak dikonsumsi.

Sekali pelanggan merasa dirugikan atau sakit setelah makan, bukan tidak mungkin mereka akan memilih warung lain.

Dengan kata lain, menjaga kualitas bagi warung makan merupakan kebutuhan langsung untuk mempertahankan pelanggan.

Prinsip sederhana semacam itu sebenarnya juga relevan dalam program MBG.

Makanan bergizi memang penting. Tetapi makanan bergizi yang tidak aman justru dapat menimbulkan persoalan baru.

Tujuan program bukan sekadar membuat anak kenyang. Lebih dari itu, makanan yang diberikan harus mampu memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menjamin keamanan dan kesehatan penerimanya.

Orang tua pun harus memiliki keyakinan bahwa makanan yang dikonsumsi anak mereka telah melalui proses yang aman dan terkontrol.

Karena itu, setiap kasus keracunan semestinya menjadi bahan evaluasi serius. Bukan hanya untuk mengetahui apa yang menyebabkan makanan bermasalah, tetapi juga untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di tempat lain.

Apakah persoalannya berada pada bahan baku? Dapur? Proses memasak? Penyimpanan? Distribusi? Waktu konsumsi? Atau lemahnya pengawasan?

Semua pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang jelas.

Terlepas dari perdebatan mengenai ketepatan sasaran maupun keberlanjutan program MBG, satu hal semestinya tidak boleh ditawar: makanan untuk anak harus aman.

Kalau setiap beberapa pekan masyarakat kembali mendengar kabar keracunan massal, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya dapurnya.

Sistemnya juga harus dibenahi.

Sebab pada akhirnya, sepiring makanan yang baik bukan hanya tentang kandungan gizi dan rasa. Ada tanggung jawab besar di baliknya: memastikan makanan tersebut sampai kepada anak dalam kondisi aman, sehat, dan layak dikonsumsi.

Kalau warung lalapan bisa menjaga pelanggan datang kembali karena rasa dan kepercayaan, program MBG tentu harus mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: menjaga kepercayaan jutaan orang tua terhadap makanan yang disantap anak-anak mereka.

Dan kalau soal sambal, itu urusan masing-masing. Mau pedas atau tidak, yang penting jangan sampai sepiring makanan bergizi justru berakhir di ruang IGD.(red/lis)

Sabtu, 01 Agustus 2026

Ngampel dan Jamsaren Angkat Piala Bergilir Wali Kota Kediri Cup 2026


(by pemkot kediri)


KEDIRI
– Turnamen Bola Voli Putra dan Putri Wali Kota Kediri Cup Piala Bergilir 2026 resmi berakhir setelah partai final berlangsung meriah di Lapangan Voli Omah Sawah, Kelurahan Burengan, Sabtu (1/8/2026). Ribuan masyarakat memadati arena pertandingan untuk menyaksikan laga puncak yang mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai kelurahan di Kota Kediri.

Pada kategori putra, Tim Voli Kelurahan Ngampel sukses keluar sebagai juara setelah mengalahkan Kelurahan Betet. Sementara di sektor putri, Tim Voli Kelurahan Jamsaren berhasil mengamankan gelar juara usai menundukkan Kelurahan Ngadirejo dalam pertandingan yang berlangsung sengit.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati hadir langsung bersama jajaran Pemerintah Kota Kediri untuk menyaksikan laga final sekaligus memberikan dukungan kepada seluruh peserta. Sebelum pertandingan utama dimulai, masyarakat juga disuguhkan laga ekshibisi tim putri Omah Sawah melawan Petrokimia Gresik yang semakin menambah semarak suasana.

Dalam sambutannya, Vinanda mengaku bersyukur Turnamen Bola Voli Wali Kota Kediri Cup dapat berlangsung dengan lancar sejak awal hingga babak final. Menurutnya, antusiasme masyarakat yang begitu tinggi menjadi bukti bahwa olahraga mampu menjadi sarana mempererat kebersamaan antarwarga.

"Alhamdulillah, malam ini kita sampai pada pertandingan terakhir. Selama satu bulan terakhir saya melihat antusiasme masyarakat luar biasa. Setiap hari Lapangan Voli Omah Sawah selalu ramai dipenuhi masyarakat yang datang untuk memberikan dukungan kepada tim kebanggaannya," ujarnya.

Ia menilai turnamen tersebut tidak hanya menjadi ajang mencari prestasi, tetapi juga menjadi wadah memperkuat persaudaraan dan membangun semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Vinanda mengajak seluruh atlet untuk menjunjung tinggi sportivitas selama pertandingan berlangsung. Ia juga mengimbau seluruh penonton agar bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, serta menciptakan suasana yang kondusif hingga turnamen berakhir.

"Saya melihat turnamen ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi ruang mempererat persaudaraan. Semoga dari ajang ini lahir atlet-atlet voli berprestasi yang mampu mengharumkan nama Kota Kediri di tingkat yang lebih tinggi," katanya.

Di akhir sambutannya, Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali itu mengingatkan agar hasil pertandingan tidak menjadi pemicu perpecahan di tengah masyarakat.

"Apapun hasil pertandingan malam ini, jangan sampai karena tim yang didukung kalah justru menimbulkan perselisihan. Kita semua adalah keluarga besar Kota Kediri. Menang maupun kalah, kita tetap bersaudara," pesannya.

Keberhasilan penyelenggaraan turnamen selama satu bulan terakhir juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pemkot Kediri menyampaikan terima kasih kepada PBVSI Kota Kediri, panitia pelaksana, aparat keamanan, sponsor, serta seluruh masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kompetisi hingga berjalan aman dan sukses.

Partai final turut dihadiri Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kediri Endang Kartika Sari, jajaran Forkopimda, para kepala OPD, camat dan lurah se-Kota Kediri, Ketua Harian PBVSI Kota Kediri Heru Wijaya, Ketua PBVSI Kota Surabaya, peserta turnamen, serta ribuan warga yang memadati Lapangan Voli Omah Sawah.(red/lis)

Kamis, 30 Juli 2026

BMKG: Cuaca Maritim Selatan Jatim Masih Berisiko, Aktivitas Melaut Diminta Waspada


Ilustrasi gelombang laut.(by radar kediri)


KEDIRI
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan prakiraan kondisi gelombang laut di wilayah Jawa Timur. Dalam periode 30 Juli hingga 3 Agustus 2026, masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku transportasi laut, diminta meningkatkan kewaspadaan karena tinggi gelombang di perairan selatan Jawa Timur masih berpotensi melebihi dua meter.

Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya, wilayah perairan selatan yang membentang dari Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi diperkirakan mengalami tinggi gelombang berkisar 1,8 hingga 2,2 meter.

Pada beberapa waktu selama masa prakiraan, tinggi gelombang bahkan berpotensi meningkat hingga kisaran 2,15–2,18 meter, sehingga memerlukan kewaspadaan lebih bagi kapal berukuran kecil maupun aktivitas penangkapan ikan di wilayah tersebut.

Berbeda dengan perairan selatan, kondisi laut di wilayah utara Jawa Timur diperkirakan relatif lebih tenang. Tinggi gelombang di kawasan Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan, Gresik, hingga Selat Madura berada pada kisaran 0,4 sampai 1,3 meter, yang masih masuk kategori rendah hingga sedang.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa prakiraan tersebut dapat berubah sewaktu-waktu apabila terjadi perkembangan awan Cumulonimbus (Cb) yang luas. Awan jenis ini berpotensi memicu angin kencang yang dapat meningkatkan tinggi gelombang melebihi prakiraan awal.

Karena itu, para nelayan, operator kapal wisata, hingga pengguna jasa penyeberangan diimbau untuk selalu memperhatikan informasi cuaca terbaru sebelum melakukan aktivitas di laut.

Apabila muncul tanda-tanda cuaca buruk seperti angin kencang, hujan lebat, atau terbentuknya awan gelap di sekitar perairan, aktivitas pelayaran maupun penangkapan ikan sebaiknya ditunda demi menghindari risiko kecelakaan.

BMKG juga mengajak masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir untuk rutin memantau perkembangan informasi cuaca maritim. Meskipun saat ini telah memasuki musim kemarau, perubahan kondisi atmosfer masih memungkinkan terjadinya perubahan cuaca secara cepat yang dapat memengaruhi keselamatan aktivitas di laut.

Kewaspadaan terhadap kondisi cuaca menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko bagi nelayan, pelaku usaha kelautan, maupun masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir selama beberapa hari ke depan.(Red/lis)

Lomba Mewarnai di Kediri Ajarkan Anak Pilah Sampah dan Peduli Lingkungan Sejak Dini

(by antara news) KEDIRI – Upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan terus dilakukan Pemerintah Kota Kediri sejak usia dini. Salah sat...